Sejarah Rel=”Dofollow” Dan Rel=”Nofollow” Saat Proses Backlink

Jasa Review Bagus – Ala Bro Amos : Said…
Hai, Happy Sunday to all friends here. Kali ini sudah basi bagi yang sudah tau perbedaan menggunakan rel=”nofollow” dan rel=”dofollow” sata proses commenting atau blog walking pada blog orang lain. Allright, saya jelaskan mengapa saat orang spamming pada di blog commenting banyak sekali yang menggunakan anchor text seperti berikut :

kw 

Baiklah sebagai besar para SEOer Indonesia hanya sekedar memahami.Ohh, Seo itu begitu ya uwes sing aku nyepam wae. Behh spam boleh spam tapi rata-rata tidak profesional. Rata-rata proses spamming selalu saja OOT rata-rata menggunakan text comment dengan kata-kata sebagai berikut :
  • Terimakasih infonya menarik
  • Blog Walking
  • Super Sekali
  • Thank about ur information
  • Good Information
Halah, mau nanam backlink masih saja pake kata-kata mesin SEO. we are human not kuman wkwkwkwkw. Ya, sebaiknya walaupun comment itu auto aprove kita kudu sesuai topic saat proses spam. Baiklah kita lanjut lagi ke pengertian penggunaan rel=”dofollow” dan rel=”nofollow” 

Hakikat Rel=”Nofollow”

rel=”nofollow”>

Salah satu properti atribut rel yang cukup terkenal adalah “nofollow”. Penggunaannya kini sangat luas. Bagaimana atribut ini bisa hadir? Tidak lain dan tidak bukan adalah atas inisiatif Google, spesifiknya, atribut rel=”nofollow” diusulkan pada awal 2005 oleh Matt Cutts, yang saat itu menjadi software engineer Google, dan seorang Blogger bernama Jason Shellen, yang juga merupakan inisiator Blogger, Google Buzz, dan Brizzly. Mereka meyakinikomentar spam berpengaruh buruk terhadap komunitas blogging (blogosphere) sehingga penggunaan atribut ini sangat dibutuhkan.

Masih pada tahun yang sama, Google mengumumkan bahwa hyperlink yang mengandung atribut rel=”nofollow” tidak akan berpengaruh pada PageRank link target. Dengan kata lain, atribut ini memberi isyarat kepada Googlebot untuk tidak “menghadiahkan” PageRank pada link yang dirujukkan oleh suatu halaman. Langkah ini diikuti oleh Yahoo, dan beberapa tahun kemudian, oleh Bing. Ask.com juga mengkonfirmasi penerapan yang sama jauh beberapa tahun belakangan. Namun demikian, masing-masing search engine memiliki intepretasi berbeda-beda terhadap rel=”nofollow”, efeknya bervariatif, dan tentunya memiliki tujuan sendiri-sendiri.  Penggunaan value nofollow  pada rel merupakan bahasa kepada algoritma search engine, dalam hal ini adalah robot crawler, untuk mengabaikan atau tidak mengikuti (no follow) sebuah link dan tidak meneruskan PageRank dari halaman perujuk (pemberi backlink).

Perdebatan mengenai kemunculan atribut baru ini cukup santer dan
keras. Kebetulan pada waktu itu saya untuk pertama kalinya mengenal blogging dan mendengar sendiri pembicaraan hangat atribut rel=”nofollow” itu, meski pada waktu itu belum benar-benar paham esensinya. Namun demikian, atribut ini tetap digunakan; pertama kali diterapkan pada Blogger, kemudian disusul oleh beberapa platform lainnya.

Meski penggunaan atribut ini memiliki fungsi jelas, banyak webmaster yang bisa mengakalinya untuk melakukan PageRank sculpting. Akhirnya, pada 15 Juni 2009, Matt Cutts mengumumkan di blognya bahwa Googlebot tidak akan memperlakukan rel=”nofollow” seperti sebelumnya untuk menghindari kecurangan tersebut. Meskipun saat ini, dengan bantuan PHP dan atau JavaScript, kita bisa menghapus atau menyembunyikan rel=”nofollow” (obfuscation). Ini yang mendasari pemunculan plugin-plugin/modul (yang kemudian dinamakan sebagai “dofollow”) pada beberapa platform blog/website, yang akan kita bicarakan nanti.

Jadi sudah sangat jelas sekarang. Kesimpulan sederhananya adalah:

1. Hyperlink tanpa atribut rel=”nofollow” diikuti dan meneruskan PageRank:

2. Hyperlink dengan atribut rel=”nofollow” tidak diikuti dan tidak meneruskan PageRank:

rel=”nofollow”>


Kemunculan istilah Dofollow, Blog Dofollow, dan rel=”dofollow”

Sejauh pengetahuan saya, istilah ini muncul lantaran nama plugin WordPress ciptaan Dennisyang berfungsi menghapus/menyembunyikan rel=”nofollow”. Kehadirannya, pada 2005 juga, adalah sebagai reaksi pada penggunaan rel=”nofollow”. Menurutnya, atribut ini tidak ada manfaatnya (Februari, 2005), selamanya dan sampai kapanpun juga komentar spam akan terus ada. Sampai saat ini, plugin tersebut masih terus dikembangkan dan digunakan oleh blog-blog dofollow. Ya, namanya adalah Do Follow Plugin. Perhatikan pada kata Do danFollow. Secara bahasa, kata do (auxiliary) di depan kata kerja positif berfungsi untuk menegaskan kesungguhan, yang artinya adalah “benar-benar mengikuti”, sebagai lawan dari kata no follow. Ini
seperti mengucapkan kata “I love you” namun kemudian memilih penekanan kesungguhan, jadinya “I do love you“. 🙂

Lantas, istilah “DoFollow” ini diadaptasi untuk menunjukkan bahwa sebuah blog tidak mengandung rel=”nofollow” pada hyperlink komentarnya. Pandangan ini berkembang menjadi gerakan perlawanan terhadap penggunaan rel=”nofollow” yang tidak mereka setujui, dengan nama “Dofollow Movement“. Blog-blog pengikut gerakan ini wajib mencantumkan label atau banner dofollow pada blognya. Pada akhir 2005, banyak blog-blog mengikuti gerakan ini dan mengikis habis rel=nofollow” dari blognya.  Jadi, blog dofollowadalah blog yang tidak menggunakan (menghapus) atribut rel=”nofollow” pada link-link di blognya (setidaknya pada link komentar), bukan blog yang menggunakan rel=”dofollow”. Salah satu jargonnya yang paling terkenal adalah “U Comment, I Follow“.

Pada prosesnya, ini menguntungkan spammer untuk lebih giat lagi mendapatkan backlink dari blog dofollow, sehingga lambat laun jumlah blog dofollow semakin berkurang. Saya dulu adalah salah satu dari mereka yang mengikuti gerakan ini dan pernah memiliki blog dofollow, baik di Blogger maupun WordPress (self-hosted). Buka-rahasia.blogspot.com dulu adalah blog dofollow.

Kemunculan rel=”dofollow”sebenarnya bersifat accidental. Dia hanyalah istilah atau nama yang dicantumkan untuk melawan rel=”nofollow”. Blog-blog dofollow mencantumkan tulisan rel=”dofollow” pada blognya sebagai indikator, sama halnya dengan label “DoFollow”. Artinya, atribut rel dan properti dofollow tersebut tidak benar-benar digunakan dalam hyperlink, melainkan hanya sebagai simbol. Sinyalir kemunculan atribut rel=”dofollow” pertama kali di dalam hyperlink adalah dari direktori-direktori dan blog-blog yang khawatir apabila tag hyperlink yang mereka sediakan (sebagai reciprocal link atau pertukaran link) akan dibubuhi rel=”nofollow” oleh pendaftar atau peserta tukaran link blog, sehingga kemudian dibubuhkan rel=”dofollow” sebagai warning agar link tersebut tidak diedit dan atau ditambahi rel=”nofollow”. 

Tidak ada pihak satupun yang mengusulkan, mengajukan, dan meminta persetujuan penggunaan rel=”dofollow” pada W3C. Dan karena memang tidak pernah diusulkan atau disetujui, maka tidak ada database satupun baik pada search engine, browser, maupun software pengolah script web yang memasukkan value properti dofollow ini. Artinya,properti dofollow tidak dikenal sama sekali.

Lalu, mengapa rel=”dofollow” tidak mengalami masalah ketika dibaca search engine dan browser, alias tidak ada error? Alasannya sederhana sekali, karena search engine dan browser tidak mengenali properti “dofollow”, dan properti-properti microformat yang tidak dikenal diabaikan begitu saja. Karena tidak dikenali pada saat proses membacanya, maka kemudian dilewati begitu saja. Artinya, link anda yang menggunakan atribut rel=”dofollow” dianggap tidak mengandung atribut rel apapun. 

Analoginya seperti ini, anda menambahkan sebuah elemen div di halaman blog dan menghiasnya dengan CSS. Katakanlah, anda menggunakan atribut class dan properti cssdiv(class=”cssdiv”), kemudian membuat .cssdiv lengkap dengan stylingnya di head atau file terpisah. Lalu, tanpa sengaja, anda keliru memberi nama properti di tag div. Jika seharusnya adalah

, namun keliru menuliskan menjadi

v“>. Apa yang akan terjadi? Karena browser tidak menemukan properti tersebut pada file CSS (tidak ada database), maka browser kemudian melewatkan pemrosesan styling pada div. Hasilnya, div tidak akan dihiasi apapun. Inilah yang terjadi pada rel=”dofollow”. Karena properti dofollow tidak dikenali maka tag link dianggap tidak mempunyai atribut rel, search engine mengabaikannya:

rel=”dofollow”>
Sama saja dengan ini:

Terimakasih artikel ini saya kutip dari blog tetangga 😀

     

Sejarah Rel=”Dofollow” Dan Rel=”Nofollow” Saat Proses Backlink | Jasa Review Bagus | 4.5
error: Content is protected !!